Hutan Bakau Sungai Dumai, Warisan Negeri Sri Bunga Tanjung Slideshow: Pecinta’s trip to Riau, Indonesia was created by Alamsyah. See another Riau slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Selasa, 16 November 2010

Burung Gereja

burung gereja di kubah mesjid 
menyimpan tuhan disehelai ilalang mati 
demi sebuah kehidupan 
aku tersenyum
di atas tanah air ku
burung garuda rebah
seperti tuhan menyitai-nyitainya
entah mana bulu
entah mana paruh
entah mana pantat
aku diam terpekasam
burung gereja yang mungil
begitu jelas loncatan centil
dengan sebiji padi dia menari
burung garuda senusantara
tak tuntas drama luka
tiada tumpas air mata
pada garuda yang meraksasa
mau terbang ke mana
semua bulu bersarang hama
jas dari rakyat membelit jelata
para wakil solekkan jelita janji
terselip tak seindah slip gaji
pegawai banyak mengawal diri sendiri
lupa bahwa diri budak di kursi
tungau orang-orang sasau
membalau dalam janji kemilau
i dinding batu maupun ditugu
semua tanya terjawab gagu
apalagi digedung dewan
mimpi rakyat bercendawan
diketiaknya penuh cecak
terperam palak
tersedak decak
burung gereja cuma patuk antah lapuk
burung garuda terdiam sebagai pusaka yang berwajah suram
pada jumat yang nyaris tamat
kupanjatkan doa cepat-cepat
hai tuhan tamatkanlah hasad
bagi wakil atau hamba rakyat
yang berdiri dinegeri berulat
pada burung gereja
kukiaskan makna
kecil berumah di rumah ibadah
pada burung garuda kudapati arti
telanjang dan nyaris mati

Dumai, Oktober 2010

Oleh Tuan Darwis Moh Saleh · 28 Oktober 2010

sajak "petang di rumah jembalang bakau"

aku hendak ke bakau
bermenung diri bersama kurau

senja hendak menghampiri selari
kala udara menepak di tepi lubuk
segera sambung badan menyatu
dalam rindu jembalang bakau

tak puas hang diri menatap engkau
setelah mengiris haru memapah ombak
di deru syahdu suara senepak
merasa lekang hendak berpulang

candu ku ingat kan bakau
sedang merajut serinai memanggil
menderup langkah telinga tertarik
sedayup jeling ke arah dikau

dumai, 3 september 2010
syahrul affandi bin jalaluddin rozali